Aku bukan!

Akuu ini ikan yang terjerumus dalam umpan!
Akuu ini burung yang terkena tembakan meleset!
Akuu ini kucing yang terjepit dalam jebakan tikus!
Akuu ini kelinci yang terpeleset ke jurang!
Akuu ini tupai yang melopat ke bara api!
Akuu ini. . Akuu ini. . Aku ini bukaaaaaannnnn. .
Tapii akuu ini bukan keledai yang jatuh ke jurang yang sama besok!
Akuu hanya tersesat oleh manusia-manusia yang menjebakku!

#coretan gadis berbaju putih

Ketika alasan menjadi tak berarti, aku hanya diam!
Ketika amarah merajai,aku hanya menangis!
Ketika kebenaran dianggap pembelaan diri!
Ketika fakta dibalik menjadi dugaan!
Aku hanya ingin berkata “semua itu tidak seperti dugaan kasat mata”

:’)

#SacherCake + #macaron #Sugarush wiff @fhianforcus (Taken with Instagram)

#SacherCake + #macaron #Sugarush wiff @fhianforcus (Taken with Instagram)

#ayyHoliday #padangpagangbeach #DenpasarBALI  (Taken with Instagram)

#ayyHoliday #padangpagangbeach #DenpasarBALI (Taken with Instagram)

#ayyHoliday #GWK #DenpasarBali  (Taken with Instagram)

#ayyHoliday #GWK #DenpasarBali (Taken with Instagram)

#ayyHoliday #GWK #DenpasarBALI  (Taken with Instagram)

#ayyHoliday #GWK #DenpasarBALI (Taken with Instagram)

#SunRise #PantaiSanur #DenpasarBALI #SUBHANALLAH  (Taken with Instagram)

#SunRise #PantaiSanur #DenpasarBALI #SUBHANALLAH (Taken with Instagram)

Mengapa Berteriak?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya; “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab; “Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.” “Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. “Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru masih melanjutkan; “Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”


#from : Renungan-kita.blogspot.com

From ; Renungan-Kita.blogspot.com

MENULIS di atas PASIR .

Kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :

Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menampar Pipiku.

Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang untuk menyejukkan galaunya. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga ia nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah ia oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu:

Hari Ini, Sahabat Terbaik Ku Menyelamatkan Nyawaku.

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya,Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu? Temannya sambil tersenyum menjawab,Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila dalam antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup waktu.

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Marilah kita belajar menulis diatas pasir!

#myBoy #M.Alfhian.Fawzie (Taken with Instagram)

#myBoy #M.Alfhian.Fawzie (Taken with Instagram)